oleh

Ketua Pekerja Bantah Proyek Jembatan di Desa Muara Pari Mangkrak, Sebut Terkendala Material dan Proses Beton

banner 468x60

Muara Teweh, Baritoraya.com – Terkait isu yang menyebutkan sejumlah pembangunan di Desa Muara Pari mangkrak, Ketua Pekerja proyek jembatan di Jalan Meranti RT 03 memberikan klarifikasi bahwa pekerjaan tersebut tidak berhenti, melainkan masih dalam proses pembangunan sesuai prosedur teknis.

Ketua Pekerja proyek, Supriyansah yang akrab disapa Supi atau Punti, menjelaskan bahwa pekerjaan pembangunan jembatan tersebut menggunakan konstruksi beton sehingga membutuhkan waktu pengerjaan dan proses pengeringan yang cukup lama.

Menurutnya, anggapan bahwa proyek tersebut mangkrak merupakan kesalahpahaman yang muncul karena masyarakat tidak mengetahui secara detail tahapan pekerjaan konstruksi yang sedang berjalan.

“Saya sangat keberatan jika pekerjaan ini disebut mangkrak. Pekerjaan tetap berjalan, namun karena menggunakan beton maka harus menunggu masa pengeringan agar hasilnya kuat dan tidak mudah rusak,” jelas Supriyansah saat ditemui di lokasi pekerjaan, Senin (16/03/2026).

Ia menerangkan bahwa dalam pekerjaan konstruksi beton terdapat prosedur teknis yang harus diikuti, termasuk masa pengeringan yang bisa memakan waktu hingga satu hingga dua bulan sebelum pekerjaan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Selain itu, kendala lain yang dihadapi di lapangan adalah akses pengangkutan material menuju lokasi proyek yang cukup sulit, mengingat Desa Muara Pari berada sekitar 11 kilometer dari jalan hauling PT Tamtama.

“Material cukup sulit naik ke lokasi, jadi kami harus menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Semua pekerjaan tetap mengikuti prosedur teknis agar hasilnya maksimal,” tambahnya.

Pembangunan jembatan tersebut diketahui memiliki panjang sekitar 165 meter dengan lebar 4 meter dan dikerjakan menggunakan anggaran yang bersumber dari Alokasi Dana Desa (ADD) Tahun Anggaran 2026.

Supriyansah juga menegaskan bahwa pihaknya sangat berhati-hati dalam pengerjaan proyek tersebut agar tidak menimbulkan kerusakan di kemudian hari.

“Kami tidak bisa terburu-buru dalam pekerjaan seperti ini. Kalau dipaksakan cepat tanpa mengikuti prosedur, justru bisa berisiko rusak dan harus diperbaiki lagi,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat dapat memahami kondisi teknis di lapangan serta tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa proyek tersebut mangkrak sebelum melihat langsung proses pekerjaan yang sedang berlangsung.

“Kami berharap masyarakat bisa melihat langsung ke lapangan. Pekerjaan tetap berjalan dan kami berupaya menyelesaikannya dengan baik sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *