oleh

Densus 88 dan STIE Muara Teweh Gelar Dialog Kebangsaan, Mahasiswa Dibekali Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

banner 468x60

Muara Teweh, Baritoraya.com – Densus 88 Antiteror Polri Satgaswil Kalimantan Tengah (Kalteng) bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muara Teweh menggelar Dialog Kebangsaan bertema “Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme serta Paham Kekerasan Sadistik” di Aula STIE Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa dan mahasiswi STIE Muara Teweh sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap bahaya penyebaran paham intoleransi, radikalisme, terorisme, dan kekerasan sadistik.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Yayasan Batara, Dr. H. Tajeri, S.E., S.H., M.M., M.H., serta Ketua STIE Muara Teweh, Dr. Hj. Sofia, S.E., M.M., M.Pd.

Ketua STIE Muara Teweh, Dr. Hj. Sofia, menyampaikan dukungan penuh terhadap program edukasi yang dilaksanakan Densus 88 Antiteror Polri.

“Kami dari Yayasan BATARA dan civitas akademika STIE Muara Teweh sangat mendukung program ini demi menjaga kondusivitas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kegiatan ini merupakan bentuk sosialisasi kepada kaum remaja, khususnya mahasiswa STIE Muara Teweh, beserta seluruh unsur pimpinan dan dosen,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Satgaswil Kalteng Densus 88 Antiteror Polri, Briptu Raka Sabda, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada mahasiswa agar mampu mengenali ciri-ciri, dampak, serta langkah pencegahan terhadap paham-paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.

“Hari ini kami berkolaborasi dengan STIE Muara Teweh untuk memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pencegahan paham intoleransi, radikalisme, terorisme, serta kekerasan sadistik kepada mahasiswa dan mahasiswi di Kabupaten Barito Utara,” katanya.

Menurutnya, mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan NKRI dari berbagai ancaman ideologi yang ingin mengganti dasar negara Indonesia.

“Harapan kami, mereka dapat menjadi pelopor dan agen perubahan dalam menjaga persatuan serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Briptu Raka juga menegaskan bahwa edukasi serupa diharapkan tidak hanya menyasar kalangan mahasiswa, tetapi juga pelajar tingkat SD, SMP, SMA hingga masyarakat umum.

“Kami berharap edukasi ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk para orang tua, terutama terkait pengawasan penggunaan media sosial terhadap anak-anak agar tidak mudah terpapar paham menyimpang,” jelasnya.

Terkait potensi penyebaran paham radikalisme di Kalimantan Tengah khususnya di Barito Utara, pihak Densus 88 menyebut setiap wilayah memiliki potensi yang sama. Namun, sebagian besar masih berada dalam batas yang wajar dan belum mengarah pada tindakan teror.

“Potensi intoleransi dan radikalisme itu ada di semua wilayah, termasuk Kalimantan Tengah. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan. Peran masyarakat sangat penting karena luas wilayah Kalteng sangat besar,” ujarnya.

Melalui kegiatan Dialog Kebangsaan ini, Densus 88 berharap kesadaran mahasiswa terhadap bahaya radikalisme semakin meningkat sehingga mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan, toleransi, dan keamanan bangsa.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *