Jakarta, Baritoraya.com – Pemerintah terus mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut bahwa adopsi AI secara luas berpotensi meningkatkan kontribusi hingga 3,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum “The Power of AI” yang digelar di Bali pada Sabtu (18/4/2026). Dalam forum itu, Meutya menegaskan bahwa daya saing suatu negara kini tidak lagi semata ditentukan oleh sumber daya alam, melainkan oleh kemampuan dalam mengadopsi teknologi, khususnya AI.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Ekosistem digital yang terus berkembang dinilai menjadi fondasi kuat dalam mempercepat transformasi berbasis data dan teknologi.
“Nilai kini bergeser, bukan lagi soal sumber daya, tetapi bagaimana kita mengelola data menjadi solusi yang berdampak,” ujarnya.
Berdasarkan data World Bank, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-41 dari 198 negara dalam transformasi digital publik dan masuk kategori A, menunjukkan kesiapan yang cukup kuat dalam menghadapi era digital.
Meski demikian, Meutya menilai adopsi AI masih perlu dipercepat di sejumlah sektor strategis seperti kesehatan, pertanian, dan manufaktur. Saat ini, sektor keuangan dan ritel dinilai lebih maju dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya regulasi yang adaptif untuk mengimbangi pesatnya perkembangan AI. Pemerintah telah menyusun peta jalan dan etika AI nasional yang saat ini menunggu pengesahan sebagai dasar kebijakan.
Ke depan, pemerintah memastikan bahwa penerapan AI tidak hanya terpusat pada sektor tertentu, tetapi juga menjangkau pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia.
















Komentar