Bima Arya Minta Kepala Desa Tinggalkan Seremoni, Utamakan Program yang Dirasakan Warga

Palembang, Baritoraya.com – Kepala desa dituntut tidak hanya mampu menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, kepemimpinan desa harus dibangun dengan visi yang jelas, keberpihakan kepada warga, serta kemampuan menentukan program prioritas.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, saat membuka kegiatan Kepala Desa Masuk Kampus (KDMK) Angkatan III di Graha Sriwijaya, Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (4/11/2026).
Bima mengingatkan para kepala desa agar tidak terjebak dalam rutinitas birokrasi dan kegiatan seremonial. Menurutnya, keberhasilan kepemimpinan tidak diukur dari banyaknya kegiatan formal yang dilaksanakan, melainkan dari manfaat kebijakan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia menilai, kepala desa harus mampu menentukan program yang paling mendesak untuk dilaksanakan. Sebab, banyaknya gagasan pembangunan tidak selalu bisa diwujudkan sekaligus karena keterbatasan sumber daya dan anggaran.
“Harus dipilih [prioritasnya], mimpinya 20 [program], enggak mungkin 20 itu [dijalankan semua], Pak. Sepuluh [program berhasil] aja udah bagus, lima top kalau semuanya jalan. Visi, ideologi, dan prioritas, nah, di sini Bapak-Ibu,” katanya.
Bima juga menekankan bahwa kehadiran pemerintah harus terlihat melalui pelayanan publik yang menyentuh kebutuhan dasar warga. Ia mencontohkan pelayanan di Posyandu sebagai salah satu bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Negara hadir ketika petugas di enam Standar Pelayanan Minimal Posyandu itu melayani Ketika senyum, itu negara hadir,” terangnya.
Untuk memperkuat pesannya, Bima mengangkat contoh kepemimpinan di tingkat lokal yang mampu melahirkan berbagai inovasi. Salah satunya Taufiq Supriadi Yusuf, Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, yang mengembangkan gang penghijauan, pembangkit listrik tenaga surya, CCTV terintegrasi, hingga laporan keuangan yang transparan.
Contoh lainnya adalah Ari Anggara, Perbekel Desa Batuan, Kabupaten Gianyar, Bali. Meski menghadapi kondisi kas desa yang defisit, ia tetap berupaya mengembangkan potensi wilayah melalui kegiatan seni, kursus menari dan memahat bagi anak-anak, serta pengembangan wisata dengan melibatkan masyarakat.
“Pesan dari dua [contoh] ini adalah, kepemimpinan adalah segalanya, Pak. Kepemimpinan itu menentukan, Pak. Siapa pemimpinnya, apa yang dilakukan, maka itulah yang dirasakan oleh warga,” ujarnya.
Selain kepemimpinan, Bima menilai kemampuan membaca dan menganalisis data menjadi bekal penting bagi kepala desa. Data wilayah dapat digunakan untuk memetakan kondisi ekonomi, memahami kebutuhan masyarakat, serta menyusun program pembangunan yang lebih tepat sasaran.
“Pak RT yang hebat tadi, itu jago membaca data-datanya, Pak. Dia petakan tingkat ekonomi warga, kemampuan seperti apa. Dia petakan kebutuhannya apa, akhirnya dibuat programnya,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, Bernhard E. Rondonuwu, menjelaskan bahwa KDMK dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi kepala desa untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan desa.
Materi yang diberikan mencakup transformasi digital, kepemimpinan publik, inovasi pelayanan, pengembangan potensi desa, penguatan ekonomi, hingga pembangunan berbasis data.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga membuka kesempatan bagi kepala desa untuk membangun jejaring kemitraan dengan perguruan tinggi, praktisi, dan kepala desa dari berbagai daerah.
Kegiatan KDMK Angkatan III diikuti 255 kepala desa terpilih dari Provinsi Sumatera Selatan. Hadir pula Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Rektor Unsri Taufiq Marwa, serta jajaran pimpinan dan akademisi Universitas Sriwijaya. (Kkg/Sumber Foto : Puspen Kemendagri)










Tinggalkan Balasan