Muara Teweh, Baritoraya.com – Keselamatan anak usia dini menjadi perhatian di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Ketua Komisi I DPRD Barito Utara, Hj. Nety Herawati, S.E., meminta orang tua memahami kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) yang kembali diterapkan sejumlah sekolah PAUD dan taman kanak-kanak (TK).
Nety yang juga menjabat Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Barito Utara menyampaikan bahwa kebijakan tersebut perlu dipahami sebagai langkah perlindungan terhadap anak, terutama ketika kualitas udara tidak sehat.
Menurutnya, anak usia dini membutuhkan perhatian khusus karena masih berada dalam tahap pertumbuhan. Paparan asap karhutla berpotensi mengganggu kesehatan, sehingga keputusan sekolah untuk menerapkan pembelajaran dari rumah perlu disikapi dengan bijak oleh orang tua.
“Kita harus paham, anak-anak PAUD dan TK ini paling rentan. Paru-paru mereka masih kecil, daya tahan tubuhnya belum sekuat kakak-kakaknya. Jadi kalau sekolah memutuskan BDR, itu semata-mata untuk melindungi anak kita dari ISPU yang tidak sehat,” ujar Nety, Selasa (20/10/2026) di Muara Teweh.
Nety memahami bahwa pembelajaran tatap muka memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi, bermain, dan belajar bersama teman-teman serta guru. Namun, dalam kondisi kabut asap, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi pertimbangan utama.
Ia mengingatkan agar pelaksanaan BDR tidak membuat anak kehilangan semangat belajar. Orang tua diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada anak.
“Belajar di sekolah itu memang lebih aktif dan lebih mengasyikkan. Tapi kondisi saat ini mengharuskan kita belajar dari rumah. BDR dan PJJ jangan mengurangi semangat dan giat kita menggali ilmu, terutama dengan cara bermain yang menyenangkan di rumah,” katanya.
Sebagai pimpinan komisi DPRD yang membidangi pendidikan, Nety menyampaikan sejumlah pesan kepada orang tua, guru, dan pihak sekolah agar proses pembelajaran tetap berjalan sesuai kondisi anak.
Kepada orang tua PAUD dan TK, ia mengajak agar pendampingan dilakukan dengan sabar dan penuh kasih sayang. Kegiatan sederhana seperti menggambar, mewarnai, menyanyi, dan bercerita dapat menjadi alternatif pembelajaran yang menyenangkan selama anak berada di rumah.
Menurutnya, pembelajaran anak usia dini tidak harus selalu berfokus pada kemampuan menulis dan berhitung. Pengembangan kreativitas, komunikasi, dan suasana emosional yang nyaman juga penting diperhatikan.
Nety juga mendorong para guru untuk tetap menjaga interaksi dengan peserta didik meskipun pembelajaran berlangsung dari rumah. Materi sederhana, seperti video menyanyi, cerita pendek, maupun aktivitas harian yang mudah dilakukan, dapat membantu anak tetap terhubung dengan kegiatan belajar.
Ia turut meminta pihak sekolah menyusun kebijakan BDR yang mudah dipahami orang tua dan tidak membebani keluarga. Dalam situasi kabut asap, perhatian terhadap kesehatan, keceriaan anak, serta komunikasi antara guru dan orang tua perlu menjadi prioritas.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat proses belajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak usia dini.
Nety menegaskan bahwa BDR bukan berarti peserta didik sedang menjalani masa libur. Anak tetap dapat belajar melalui aktivitas yang sesuai dengan usia dan kondisi mereka, dengan pendampingan keluarga.
“Ini bukan libur. Ini belajar dari rumah demi kesehatan. Mari kita manfaatkan waktu ini untuk lebih dekat dengan anak, lebih banyak memeluk dan mendoakan agar asap karhutla cepat hilang, agar anak-anak kita bisa segera kembali ke sekolah dengan udara bersih,” tutupnya.
Ia berharap kondisi kabut asap di Muara Teweh segera membaik sehingga aktivitas pendidikan dapat kembali berlangsung secara tatap muka dengan memperhatikan kondisi kualitas udara dan arahan pihak berwenang.













Komentar