Muara Teweh, Baritoraya.com – Pembinaan warga binaan tidak hanya berfokus pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga pada penguatan mental dan spiritual sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, melalui fasilitasi ibadah Kristen bersama Pelayanan Kelompok Lansia (PKL) Jemaat GKE Anugerah Muara Teweh, Sabtu (10/10/2026).
Ibadah berlangsung khidmat dengan menghadirkan Pdt. Setni Penti Hustaria sebagai pelayan firman Tuhan dan Risma Saragih sebagai liturgos. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan spiritual warga binaan selama menjalani masa pembinaan di dalam lapas.
Melalui pelayanan kerohanian tersebut, warga binaan diajak merenungkan makna kehidupan serta memperkuat nilai-nilai kasih, pengharapan, kejujuran, dan kesabaran. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi landasan untuk melakukan perubahan positif dalam diri masing-masing.
Pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan menjadi salah satu sarana untuk membantu warga binaan membangun kesadaran diri, menjaga ketenangan batin, serta menumbuhkan semangat dalam menjalani kehidupan.
Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk memperkuat hubungan spiritual dan merefleksikan pengalaman hidup selama menjalani masa pidana.
Kalapas Muara Teweh, Halasson Sinaga, menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen mendukung pembinaan kepribadian warga binaan, termasuk melalui pelayanan keagamaan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
“Diharapkan, pembinaan kerohanian tersebut tidak hanya memberikan ketenangan selama berada di dalam lapas, tetapi juga membantu warga binaan mempersiapkan diri untuk kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial ketika masa pidana berakhir,” ungkap Kalapas.
Halsson menambahkan pelaksanaan ibadah bersama ini sekaligus mencerminkan sinergi antara Lapas Kelas IIB Muara Teweh dan Jemaat GKE Anugerah Muara Teweh dalam mendukung proses pembinaan yang humanis dan berkelanjutan.
“Keterlibatan unsur keagamaan dari luar lapas menjadi salah satu bentuk dukungan dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya memperhatikan aspek kedisiplinan, tetapi juga perkembangan spiritual dan kepribadian warga binaan,” ungkapnya.
“Melalui kegiatan serupa, Lapas Muara Teweh berharap warga binaan dapat terus menumbuhkan semangat memperbaiki diri, membangun perilaku yang lebih baik, serta mempersiapkan diri untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat,” pungkasnya. (Rizal)













Komentar