Muara Teweh, Baritoraya.com – Program pembinaan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Teweh mulai diarahkan semakin terukur dengan pemetaan kebutuhan masing-masing warga binaan.
Langkah tersebut dilakukan melalui asesmen terhadap 14 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang melibatkan Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Balai Pemasyarakatan (Bapas) Muara Teweh, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di aula Lapas Muara Teweh tersebut menjadi bagian dari penguatan sinergi antara Lapas dan Bapas dalam mendukung pembinaan kepribadian sekaligus kebijakan pembentukan pusat rehabilitasi dan reedukasi.
Dalam prosesnya, para warga binaan menjalani wawancara serta pengujian psikososial. Asesmen dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai latar belakang permasalahan, tingkat risiko, kebutuhan pembinaan hingga potensi yang dimiliki masing-masing warga binaan.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena kebutuhan pembinaan setiap warga binaan tidak selalu sama. Dengan data yang lebih lengkap, metode rehabilitasi dan reedukasi dapat disusun berdasarkan kondisi serta kebutuhan individu.
Kegiatan asesmen diikuti jajaran petugas pembinaan kepribadian Lapas Muara Teweh bersama tim PK Bapas Muara Teweh. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun proses pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada masa selama menjalani pidana, tetapi juga kesiapan ketika warga binaan kembali ke lingkungan sosial.
Kalapas Muara Teweh Halasson Sinaga mengatakan Pelaksanaan asesmen kolaboratif ini mencerminkan komitmen kuat kedua instansi dalam memastikan bahwa proses pembinaan di dalam lapas berjalan secara terukur, terstandarisasi, and berorientasi pada hasil jangka panjang.
Melalui pemetaan profil warga binaan secara komprehensif, pembinaan diharapkan dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik. Aspek mental, perilaku, kesadaran hukum serta potensi individu menjadi bagian yang penting dalam menentukan pendekatan pembinaan.
Hal tersebut juga menjadi bagian dari persiapan agar warga binaan memiliki bekal yang lebih baik sebelum kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Melalui proses rehabilitasi dan reedukasi yang disusun berdasarkan hasil asesmen, pembinaan diharapkan tidak berhenti pada perubahan perilaku selama berada di dalam lapas, tetapi dapat memberikan dampak jangka panjang setelah warga binaan kembali berintegrasi dengan masyarakat.
Sinergi Lapas Muara Teweh dan Bapas Muara Teweh pun menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan proses tersebut berjalan secara sistematis, mulai dari pemetaan kondisi warga binaan hingga penentuan kebutuhan pembinaan yang sesuai. (Rizal)













Komentar