Muara Teweh, Baritoraya.com – Kabupaten Murung Raya mengambil langkah maju dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal dengan menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Pusat Kajian Ekonomi Kerakyatan (Pusekra) dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif (Rindekraf).
Kemitraan ini menjadi sinyal kuat bahwa arah pembangunan di Murung Raya kini bergerak ke paradigma baru berbasis riset, inovasi, dan identitas budaya lokal.
Langkah tersebut ditandai dengan kegiatan Pemaparan Laporan Awal dan Focus Group Discussion (FGD) Rindekraf di Kantor Bupati Murung Raya, yang dihadiri langsung oleh tim ahli dari Pusekra UGM yang dipimpin ekonom senior Dr. Dumairy, bersama Ariyanto dan Arif Setyo Widodo.
Dalam pemaparannya, Dr. Dumairy menekankan pentingnya menjadikan ekonomi kreatif bukan hanya sekadar tren gaya hidup modern, tetapi sebagai strategi pemberdayaan masyarakat.
“Murung Raya memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam yang luar biasa. Melalui riset, kita ingin memastikan potensi ini dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat,” jelasnya.
Tim peneliti UGM telah memetakan subsektor ekonomi kreatif unggulan yang potensial dikembangkan di Murung Raya, mulai dari kerajinan tangan berbasis hutan tropis, kuliner tradisional, seni pertunjukan Dayak, hingga pariwisata alam dan budaya.
Pendekatan riset ini menekankan sinergi antara UMKM, komunitas kreatif, dan pemerintah daerah untuk menciptakan rantai nilai ekonomi baru di pedalaman Kalimantan Tengah.
Penyusunan Rindekraf diselaraskan dengan RPJMD Murung Raya 2025–2029 dan mendukung visi Asta Cita Pemerintah Pusat, terutama dalam mewujudkan pemerataan ekonomi dan penguatan sektor kreatif berbasis masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, pengurangan ketimpangan, dan kemitraan untuk pembangunan.
Asisten III Sekretariat Daerah Murung Raya, Andri Raya, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis agar setiap kebijakan daerah berlandaskan data akademis dan analisis sosial ekonomi yang komprehensif.
“Kami tidak ingin pembangunan hanya berdasarkan intuisi. Dengan dukungan UGM, arah kebijakan bisa lebih presisi, berdampak, dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Murung Raya,” ujarnya.
Tak hanya menyusun dokumen perencanaan, Pusekra UGM juga akan mendampingi pelaku usaha lokal melalui lokakarya, pelatihan wirausaha, dan diskusi tematik.
Tujuannya, agar para pelaku ekonomi kreatif di Murung Raya mampu mengembangkan produk yang kompetitif, memiliki identitas daerah, dan siap bersaing di pasar nasional bahkan internasional.
Reyzal Samat, Kepala Bapperida Murung Raya, menegaskan bahwa keterlibatan UGM adalah langkah penting dalam memperkuat kapasitas birokrasi dan dunia usaha lokal.
“Kami ingin agar Rindekraf ini tidak berhenti di atas kertas. Semua hasil riset harus diterjemahkan menjadi program nyata, dari desa hingga ke tingkat kabupaten,” katanya.
Rencana induk ini juga menempatkan prinsip keberlanjutan lingkungan sebagai salah satu pilar. Produk-produk ekonomi kreatif akan diarahkan agar ramah lingkungan dan berakar pada kearifan lokal masyarakat Dayak, sehingga menciptakan keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.
Dengan dukungan akademisi, birokrasi, dan masyarakat lokal, Murung Raya diharapkan dapat menjadi contoh kabupaten berbasis ekonomi kreatif hijau di pedalaman Kalimantan.
“Pembangunan ekonomi tidak harus menebang hutan, tapi bisa menumbuhkan kreativitas. Inilah arah baru yang sedang kita perjuangkan,” tutup Dr. Dumairy.












Komentar